Satu Wastra Seribu Makna

Batik

Tak banyak wastra yang memiliki perjalanan panjang sekaligus makna sedalam batik. Di balik garis, titik, dan pola rumitnya, tersimpan sejarah, filosofi, serta jejak budaya yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat Indonesia. Batik bukan sekadar produk tekstil. Batik adalah cara bercerita, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menurut pendapat Trixie (2020) dalam Jurnal Pena, kata batik berasal dari bahasa Jawa amba dan nitik, yang jika digabungkan berarti seni menulis titik-titik menggunakan alat bernama canting.

Batik mengalami perkembangan yang cukup pesat pada masa kesultanan Mataram, ditandai dengan digunakannya batik di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakata.

Secara tradisional proses pembuatan batik tulis diawali dengan merebus kain (pengkethelan), menggambar kain dengan malam (nyanting), menutup bagian tertentu pada kain agar tidak terkena pewarna lain (nemboki), dan meluruhkan malam dengan air panas (nglorod).

Alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan batik tulis antara lain kain mori, canting, malam atau lilin batik, zat pewarna, wajan, kompor kecil, gawangan, dingklik, bandul, dan meja kayu.

Selain pembuatan batik dengan teknik batik tulis, terdapat variasi teknik membatik yang lain seperti teknik cap, colet, celup ikat, dan printing.

Motif batik mencerminkan kekayaan budaya Nusantara. Motif Sido Asih contohnya, banyak digunakan dalam pernikahan karena memuat doa agar pasangan saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.

Ada beberapa daerah di Indonesia yang menjadi sentra batik yaitu Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Madura, dan Ngasem.

Pengakuan UNESCO terhadap batik datang pada tanggal 2 Oktober 2009. Dalam sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda di Abu Dhabi, UNESCO secara resmi menetapkan batik Indonesia sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Penetapan tersebut menandai peringatan Hari Batik Nasional setiap tanggal 2 oktober dan menjadi momentum yang memperluas penggunaan batik, dari simbol seremoni menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Setelah diakui oleh UNESCO, pelestarian batik terus diperkuat dengan didirikannya Museum Batik Pekalongan.

Museum Batik Pekalongan berdiri atas gagasan masyarakat dan pengrajin lokal melalui Paguyuban Pecinta Batik Pekalongan (PPBP) yang dibentuk sejak tahun 1972.

Museum ini kemudian diresmikan secara langsung oleh presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2006.

Museum Batik Pekalongan terletak di Jl. Jetayu No.3, Panjang Wetan, Kec. Pekalongan, Jawa Tengah. Museum ini menyimpan lebih dari 1.200 koleksi batik dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dulu, sebelum menjadi Museum Batik Pekalongan, pada tahun 1960-an bangunan ini difungsikan senagai kantor administrasi keuangan pabrik gula di wilayah Karesidenan Pekalongan. Bagunan ini sempat beberapa kali beralih fungsi menjadi balaikota, kantor wali kota, hingga kompleks perkantoran Pemerintah Pekalongan.

Selain menjadi tempat penyimpanan berbagai koleksi batik dari seluruh Nusantara, Museum Batik Pekalongan juga berfungsi sebagai sarana edukasi budaya membatik. Peran ini dibuktikan melalui penerimaan penghargaan Best Safeguarding Practices kategori ICH 03 dari UNESCO pada 1 Oktober 2009, yang menjadikan museum ini sebagai satu-satunya museum di Indonesia yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan batik, museum ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan pameran.